BANDA ACEH | BARATNEWS.CO — Himpunan Mahasiswa Pelajar Aceh Singkil (HIMAPAS) menyatakan akan menggelar rangkaian aksi unjuk rasa (unras) lanjutan di sejumlah titik strategis di Banda Aceh sebagai bentuk protes terhadap dugaan pelanggaran operasional PT Ensem Lestari di Aceh Singkil.
Beberapa lokasi yang direncanakan menjadi titik aksi di antaranya Kantor Gubernur Aceh, Kantor DPRA, Flyover Jeulingke, Flyover Masjid Oman, serta sejumlah titik lainnya di Kota Banda Aceh.
Wakil Ketua HIMAPAS, Mullyadi Manik, mengatakan gerakan tersebut lahir dari kekecewaan mahasiswa dan pemuda Aceh Singkil terhadap sikap Pemerintah Aceh yang dinilai belum serius menangani persoalan lingkungan dan aktivitas perusahaan di daerah tersebut.
Menurut Mullyadi, HIMAPAS sebenarnya telah merencanakan aksi demonstrasi pada hari ini. Namun, agenda tersebut ditunda lantaran sejumlah pemangku kebijakan diketahui sedang berada di luar daerah.
“Aksi ini merupakan pemantik dari gerakan kami. Penundaan aksi sebelumnya bukan berarti persoalan selesai, justru menjadi bentuk akumulasi kekecewaan kami sebagai pemuda dan mahasiswa terhadap Pemerintah Aceh,” ujar Mullyadi.
Ia menyoroti aktivitas PT Ensem Lestari yang disebut masih beroperasi meskipun izin operasional perusahaan tersebut telah dicabut melalui sanksi administratif.
Dalam surat Pengenaan Sanksi Administratif Pencabutan Sertifikat Standar atas nama PT Ensem Lestari, pada Amar Kelima disebutkan:
“Dalam hal pengenaan sanksi pencabutan sebagaimana dimaksud dalam Amar Ketiga, pelaku usaha wajib menghentikan seluruh kegiatan usahanya.”
HIMAPAS menilai kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya pembiaran terhadap aktivitas perusahaan yang seharusnya telah dihentikan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kami menduga Pemerintah Aceh abai terhadap kondisi Aceh Singkil. Kami juga menilai adanya kekuatan oligarki yang terus tumbuh dan seolah kebal hukum di bumi Syekh Abdurrauf Tanoh Metuah,” kata Mullyadi.
Selain itu, HIMAPAS turut mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya pemuda dan mahasiswa Aceh Singkil, agar lebih peduli terhadap kondisi lingkungan dan masa depan daerah mereka.
“Kami mengajak seluruh kawan-kawan seperjuangan untuk sadar terhadap kondisi lingkungan Aceh Singkil hari ini. Persoalan ini bukan hanya tentang satu perusahaan, tetapi tentang masa depan tanah dan lingkungan masyarakat Aceh Singkil,” pungkasnya. (Sajali)













