Baratnews.co
  • Budaya
  • Gaya Hidup
  • Home
  • BIsnis
  • Politik
  • Opini
  • Lifestyle
No Result
View All Result
Baratnews.co
Kamis, 14 Mei 2026
No Result
View All Result
Baratnews.co
Home Opini

Joget DPR, Demo dan Tragedi Affan, Ada Kemiripan 1998

Redaksi by Redaksi
31 Agustus 2025
in Opini, Uncategorized
0

Ilustrasi demonstrasi. Foto: Istimewa/Net

Spread the love

Oleh tim news Baratnews.co

Adasatu ironi akan terus membekas dalam sejarah bangsa Indonesia. Tak terlupakan, sama halnya dengan tahun 1998. Agustus tahun 2025 menjadi sejarah pilu dialami bangsa. Mengapa tidak, rakyat yang turun ke jalan untuk menyuarakan pendapat, tapi justru menjadi tragedi kehilangan nyawa.

Kalau membandingkan tahun 1998, masa di mana adanya demonstrasi menumbangkan rezim orde baru, sejarah membuktikan bahwa kita menyebutkan banyak mahasiswa dan masyarakat gugur di medan perang merebut keadilan. Sementara pada 2025, kita diingatkan nama Affan Kurniawan.

Related posts

Kecelakaan Maut di Rigaih Aceh Jaya, Tiga Penumpang Hiace Meninggal Dunia

Kecelakaan Maut di Rigaih Aceh Jaya, Tiga Penumpang Hiace Meninggal Dunia

12/04/2026

Curi Barang Toko, Warga Kulu Diamankan Polisi

31/03/2026

Pemuda pengemudi ojek online berjaket hijau tersebut dilindas kendaraan taktis Brimob di depan Gedung DPR. Padahal, Affan bukan salah satu dari peserta demonstran, tetapi kebetulan melewati jalur lintas yang dikerumuni demonstran.

Saat Affan ditabrak, mobil kendaraan taktis Brimob bukannya berhenti pada lindas pertama, malah lebih mengganas melaju kencang tanpa memikirkan nasib Affan.

Irama situasinya mirip, walau tak sama persis. Meski di tahun 1998 lebih parah, namun tak pelak 2025 menjadi tragedi kelam yang tak manusiawi, sehingga huru-hara terjadi di sejumlah lokasi akibat kendaraan taktis Brimob melindas pemuda pencari nafkah untuk keluarganya tewas.

Sejenak kita harus balik mengingat sejarah yang terjadi 27 tahun silam. Masa di mana mahasiswa dan rakyat marah karena harga melambung, krisis moneter meluluhlantakkan isi-isi dapur, dan pemerintahan orde baru tak lagi dipercaya.

Di 2025 amarah itu muncul kembali, bedanya kali ini dipicu oleh kebijakan kenaikan gaji dan tunjangan DPR RI—sebuah keputusan yang dianggap tidak masuk akal, di tengah rakyat masih berjibaku dengan harga pangan, bahan pokok, ongkos sekolah, dan cicilan yang menjerat.

Pada 1998 rakyat melihat aparat dan mahasiswa berhadap-hadapan dalam tensi politik besar yang mengubah arah negara. Tahun ini, tepat bulan kemerdekaan, rakyat justru dipaksa menelan ironi lain: para wakil rakyat berjoget di balkon Gedung DPR saat ribuan orang berteriak menuntut keadilan di luar pagar.

Joget itu terekam kamera, viral di media sosial, dan langsung jadi bensin yang menyulut api kemarahan massa. Tak terbendung, massa membentuk gelombang suara. Ayunan suaranya terdengar hingga ke luar negeri.

“DPR berjoget, rakyat berteriak.” Begitu komentar netizen yang ramai di jagat maya.

Beberapa nama anggota DPR disebut ikut berjoget bersama staf di balkon gedung parlemen. Walau sebagian berkilah hanya “melepas penat,” publik terlanjur menilai itu sebagai simbol arogansi. Ketika rakyat kepanasan di jalan, mereka menari-nari dengan irama musik dari pengeras suara.

Parahnya lagi sejarah mencatat, masa Reformasi 1998, tidak ada satupun pejabat yang berani berjoget saat mahasiswa merebut jalanan. Mereka memilih bersembunyi di balik barikade. Tetapi tahun ini justru menertawakan jeritan rakyat yang memohon kebijakan lebih tak manusiawi “menari di atas luka”.

Rerumputan, dedaunan, tumbuh-tumbuhan di sekitar wilayah gedung DPR menjadi saksi bisu bahwa lautan manusia menyuarakan aspirasinya berubah menjadi luka. Aparat berbenturan baku hantam dengan massa dan Affan Kurniawan tewas mengenaskan dilindas kendaraan taktis Brimob.

Pemuda berusia 21 tahun tersebut—bukan mahasiswa, bukan aktivis besar, melainkan pengemudi ojek online. Rekaman video memperlihatkan tubuhnya terseret, membuat massa yang sudah panas berubah jadi amukan raksasa. Massa sempat menyetop kendaraan milik Brimob itu, namun lolos kabur.

Polri sendiri sudah mengumumkan tujuh personel Brimob yang diduga terlibat, inisial Kompol CB, Aipda M, Bripka R, Briptu G, Bripda M, Bharaka Y, dan Bharaka G.

Mereka kini tengah diperiksa Propam. Tetapi bagi publik, itu tidak cukup. Affan bukan hanya korban, ia simbol bahwa negara gagal melindungi warganya. “Rapatkan barisan. Lawan,” tulis salah satu di media sosial Instagram @xtrememerch.

Amarah yang Menyebar

Dari tragedi tragis itu amarah massa mulai nampak, bahkan menjalar ke mana-mana. Markas Brimob Kwitang digeruduk dan dibakar. Mako Polda Jaya ikut dilempari massa. Fasilitas umum hancur, pos polisi dibakar, bahkan rumah-rumah pejabat legislatif dikepung, dijarah, hingga perabotan dan elektronik diangkut massa.

Inilah wajah situasi lain dari kekecewaan, berubah menjadi neraka dunia—api ada di mana-mana. Sebab ketika rakyat merasa sudah tidak punya saluran aspirasi yang sehat, maka jalanan jadi ruang utama, dan amarah berubah jadi bara yang melalap apa saja.

ADVERTISEMENT

Jika dihitung mundur, ada benang merah yang menyedihkan. Reformasi 1998 melahirkan demokrasi dengan janji agar rakyat lebih dekat dengan wakilnya. Namun, dua dekade lebih berlalu, jarak itu semakin jauh. Wakil rakyat kini hidup dalam fasilitas mewah, dengan gaji yang terus bertambah, sementara rakyat menonton dari kejauhan dengan dompet yang kian menipis.

Demo 1998 berakhir dengan tumbangnya rezim. Demo 2025 belum tentu menjatuhkan kekuasaan, tapi sudah menelan korban nyawa, merusak fasilitas, dan meninggalkan luka sosial yang dalam.

Pertanyaan Masyarakat yang Timbul

Berdasarkan pantauan di media sosial, pertanyaannya bertubi-tubi muncul lewat komentar: apa arti demokrasi jika suara rakyat selalu ditukar dengan angka-angka di rapat paripurna? Apa gunanya kursi empuk di Senayan jika rakyat di luar pagar hanya dianggap pengganggu lalu lintas?

Kembali ke dasar tragedi memilukan, Affan. Mungkin pemuda satu ini tidak tahu sejarah Reformasi 1998. Affan mungkin hanya tahu, hari itu ia sedang bekerja, lalu takdir membawanya ke tengah demonstrasi.

Meski begitu, benturan baku hantam aparat pengamanan dengan massa dan tragedi menewaskan Affan justru menjadi simbol kekompakan soliditas lahir. Rakyat kecil yang menderita akibat kebijakan elitis, saling merangkul merebut demokrasi yang sebenarnya.

Dan kita sebagai bangsa Indonesia, harus punya keputusan akhir, apakah tragedi Affan akan diingat sebagai kemarahan sesaat, atau sebagai peringatan abadi bahwa wakil rakyat harus kembali menjadi milik rakyat—bukan hanya milik diri dan kelompoknya. (*)

Tags: 1998 ReformasiAffan Kurniawanbaratnews.coDemonstrasi di DPR 2025
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tak Hanya Rumah Sahroni, Rumah Uya Kuya dan Eko Patrio juga Dijarah Massa

Next Post

Nuansa HUT RI di Aceh Barat Masih Berlanjut, dari Senan hingga Bazar UMKM Dilaksanakan

Related posts

HIMADISTRA FISIP UTU Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Lhokseumawe

by Redaksi
14 Mei 2026
0

Diketahui, musibah kebakaran tersebut menghanguskan 77 rumah warga dan menyebabkan puluhan keluarga kehilangan tempat tinggal serta harta benda.

Syafrial Ardy Terpilih Pimpin KB PII Aceh Barat, Hasilkan Rekomendasi Strategis

by Redaksi
26 April 2026
0

“KB PII harus menjadi wadah yang tidak hanya memperkuat ukhuwah, tetapi juga mampu melahirkan gagasan dan aksi nyata bagi kemajuan...

Kemenag Perkuat Data MBG, 15,6 Juta Santri dan Siswa Jadi Prioritas

by Redaksi
23 April 2026
0

JAKARTA | BARATNEWS.CO — Kementerian Agama menegaskan komitmennya mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memperkuat integrasi data guna memastikan...

Aceh Siap Jadi Tuan Rumah Hari Posyandu Nasional 2026, Marlina: Harus Jadi Contoh

by Redaksi
14 April 2026
0

“Meski baru dilanda bencana, kita harus menunjukkan bahwa Aceh tetap mampu bangkit dan menyukseskan event nasional ini,” kata perempuan yang...

Mualem Lantik Tiga Kepala SKPA, Tekankan Kinerja dan Serapan Anggaran

by Redaksi
11 April 2026
0

“Dengan waktu kerja yang terbatas, kinerja harus dipacu. Setiap program harus berjalan efektif dan memberikan hasil nyata,” ujar Mualem.

Next Post

Nuansa HUT RI di Aceh Barat Masih Berlanjut, dari Senan hingga Bazar UMKM Dilaksanakan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT

Latest posts

HIMADISTRA FISIP UTU Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Lhokseumawe

by Redaksi
14 Mei 2026
0

Diketahui, musibah kebakaran tersebut menghanguskan 77 rumah warga dan menyebabkan puluhan keluarga kehilangan tempat tinggal serta harta benda.

Demo JKA Jilid III Memanas, ARA Tuding Aparat Kepolisian Lakukan Brutalitas

by Redaksi
14 Mei 2026
0

Massa aksi menuding aparat kepolisian melakukan tindakan represif dan brutal terhadap peserta demonstrasi saat upaya pembubaran massa berlangsung.

Polda Diminta Evaluasi Polres Aceh Singkil Soal Kasus Pembunuhan Nenek Sedah

by Redaksi
14 Mei 2026
0

Kasus pembunuhan yang terjadi pada 15 Maret 2025 itu kembali menjadi perhatian publik setelah belum adanya penetapan tersangka maupun penjelasan...

Kunker ke Polresta Banda Aceh, Kapolda Ingatkan Integritas Anggota Polri

by Redaksi
12 Mei 2026
0

Dalam kegiatan yang berlangsung di Meuligoe Rastra Sewakottama itu, Kapolresta Banda Aceh memaparkan kondisi kamtibmas, capaian kinerja, penegakan hukum, hingga...

Sekda Aceh Lantik Pejabat Administrator dan Pengawas

by Redaksi
12 Mei 2026
0

Gubernur menekankan bahwa pelantikan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas birokrasi agar semakin profesional, responsif, dan mampu menjawab kebutuhan...

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
© 2026 www.baratnews.co - All right reserved

Hubungi kami: redaksi@baratnews.co

No Result
View All Result
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Hubungi kami: redaksi@baratnews.co