KUALA SIMPANG | BARATNEWS.CO – Area terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang semakin meluas. Satu orang dilaporkan meninggal dunia akibat terseret arus. Sedangkan sebanyak 1.521 jiwa terpaksa mengungsi.
Meluasnya dampak banjir ini akibat luapan air sungai tidak mengalir ke laut karena tertahan arus pasang mati air laut. Karena itu, Pj Bupati Aceh Tamiang, Asra mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan karena ada potensi banjir hingga tiga hari ke depan.
“Di saat bersamaan, laut sedang arus pasang mati, diprediksi sampai tiga hari ke depan,” kata Pj Bupati. “Masyarakat harus hati-hati, jangan melakukan aktivitas yang tidak penting,” pesan Asra.
Meninggal dunia
Satu orang dilaporkan meninggal dunia dalam peristiwa banjir yang melanda Aceh Tamiang, Minggu (13/10/2024). Korban diketahui bernama Alwin Hakim (20), warga Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang, ditemukan meninggal setelah sempat dilaporkan hilang, sekira pukul 14.00 WIB.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Aceh Tamiang, Iman Suhery menjelaskan, pihaknya sempat melakukan operasi pencarian dengan mengerahkan tiga perahu karet untuk menyusuri sungai. “Operasi pencarian dilakukan selama empat jam, tim menemukan korban sudah dalam keadaan meninggal,” kata Bayu–sapaan akrab Kalak BPBD.
Berdasarkan keterangan rekan korban, insiden naas ini bermula saat mereka mancing ikan di tepi sungai di Kampung Lubukdamar, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang, sekira pukul 14.00 WIB. Kondisi air sungai ketika itu deras karena sedang banjir. Ada dugaan korban mengidap penyakit epilepsi (ayan). Penyakit ini kambuh sehingga korban langsung jatuh ke sungai dan hanyut terseret arus.
1.521 Jiwa Mengungsi
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Aceh Tamiang, banjir sudah menyentuh seluruh atau 12 kecamatan dan menyebabkan 826 kepala keluarga (KK) atau 1.521 jiwa mengungsi. Tingginya jumlah pengungsi ini membuat Pj Bupati Aceh Tamiang, Asra menyusuri sejumlah perkampungan untuk memastikan keberadaan dapur umum.
“Saya sudah tekankan ke jajaran, jangan sampai ada warga yang tidak teratasi, minimal dapur umum harus tersedia,” tegas Asra ketika menyusuri permukiman di Sukajadi, Kecamatan Karangbaru, Minggu (13/10/2024).
Asra tidak membantah kalau persoalan banjir di daerahnya merupakan masalah klasik yang terus terulang di setiap musim hujan. Namun dia memastikan akar masalah banjir ini hanya satu, yaitu pendangkalan muara.
“Muara kita ada dua, Pusungkapal dan Kualapeunaga. Hari ini, keduanya sudah dangkal, di waktu-waktu tertentu bisa dilalui dengan jalan kaki,” jelas Asra.
Berdasarkan peristiwa yang sudah terjadi, banjir di Aceh Tamiang selalu terjadi ketika laut sedang arus pasang mati dan bersamaan dengan curah hujan di pegunungan Aceh Timur dan Aceh Tenggara sedang tinggi.
“Air kiriman dari Aceh Timur dan Aceh Tenggara ini jatuhnya ke sungai kita,” kata Pj Bupati. “Selama laut tidak pasang mati, dipastikan Aceh Tamiang tidak akan banjir karena air langsung terbuang ke laut,” ungkapnya.(sum/serambi)











