MEULABOH | BARATNEWS.CO – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh mendesak penghentian total aktivitas truk bermuatan besar yang melintas di kawasan jalan pendidikan. Desakan ini muncul menyusul kekhawatiran terhadap dampak kesehatan dan keselamatan mahasiswa.
Ketua DEMA, Alfa Salam, menyatakan pihaknya mengajukan mosi tidak percaya terhadap sistem pengawasan transportasi di sekitar kampus yang dinilai lalai.
“Kampus adalah ruang pendidikan, bukan jalur distribusi material berbahaya. Kami tidak akan membiarkan kesehatan mahasiswa terancam,” tegas Alfa dalam pernyataan resminya diterima Baratnews, Jumat (1/5/2026).
Menurut DEMA, truk-truk yang melintas diduga merupakan bagian dari aktivitas operasional perusahaan tambang dan industri di Aceh Barat. Material yang diangkut disebut berpotensi mengandung unsur berbahaya, sehingga berisiko mencemari lingkungan sekitar kampus.
Selain ancaman kesehatan, DEMA juga menyoroti dampak terhadap infrastruktur jalan. Kendaraan dengan muatan besar dinilai mempercepat kerusakan jalan akibat praktik Over Dimension Over Loading (ODOL).
“Jalan yang seharusnya menjadi akses pendidikan kini berada di ambang kerusakan akibat kendaraan berat yang tidak sesuai kapasitas,” ujar Alfa.
Aspek keselamatan turut menjadi perhatian. Aktivitas truk di jalan sempit kawasan kampus disebut meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi mahasiswa yang beraktivitas setiap hari.
DEMA juga mengungkapkan bahwa paparan debu dan emisi gas buang dari kendaraan berat telah menurunkan kualitas udara di lingkungan kampus. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan (ISPA) hingga iritasi.
Atas kondisi tersebut, DEMA mendesak aparat penegak hukum dan pemerintah daerah segera mengambil langkah tegas untuk menertibkan aktivitas kendaraan berat di jalur pendidikan.
“Kami meminta penindakan konkret agar kawasan kampus kembali aman dan layak bagi aktivitas akademik,” katanya.
DEMA STAIN menegaskan, jika tuntutan tersebut tidak direspons, pihaknya bersama mahasiswa akan melakukan aksi lanjutan sebagai bentuk protes. (*)











