MEULABOH | BARATNEWS.CO — Puluhan mahasiswa bersama elemen masyarakat sipil menggelar aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Meulaboh, Aceh Barat, Jumat (1/5/2026).
Aksi tersebut diwarnai kritik keras terhadap kebijakan negara yang dinilai kian menjauh dari prinsip keadilan sosial dan perlindungan terhadap pekerja.
Dalam orasinya, massa menyebut kondisi buruh saat ini sebagai cerminan kegagalan negara dalam menjamin kesejahteraan. Mereka menuding praktik kerja eksploitatif masih dibiarkan, sementara perlindungan terhadap pekerja dinilai minim.
Koordinator aksi, Anriansah Kalimuddin, menegaskan bahwa tekanan terhadap buruh terus terjadi melalui skema upah murah, status kerja tidak pasti, serta lemahnya jaminan perlindungan.
“Buruh ditekan dari berbagai sisi, sementara negara justru membuka ruang bagi praktik yang merugikan pekerja. Ini tidak boleh terus berlangsung,” ujarnya.
Aksi yang berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian ini diisi dengan orasi politik, pembentangan spanduk, serta seruan solidaritas. Massa menyoroti sejumlah kebijakan, seperti sistem outsourcing dan regulasi ketenagakerjaan, yang mereka nilai sebagai bentuk ketidakadilan struktural.
Selain itu, peserta aksi menilai adanya kecenderungan kriminalisasi terhadap buruh yang menyuarakan hak-haknya, yang dianggap sebagai kemunduran dalam praktik demokrasi.
Dalam 12 tuntutannya, massa mendesak pemerintah segera melakukan langkah konkret, antaranya yaith penghapusan sistem outsourcing, sahkan RUU perampasan aset, peningkatan kesejahteraan buruh, hingga revisi sejumlah regulasi ketenagakerjaan. Mereka juga menyuarakan pentingnya perlindungan berbasis hak asasi manusia dalam dunia kerja.
Tak hanya itu, massa turut mengangkat isu yang lebih luas, mulai dari reformasi kebijakan pajak hingga penyelesaian persoalan HAM. Menurut Ariansyah, berbagai persoalan tersebut saling berkaitan dengan arah kebijakan negara yang dinilai belum berpihak pada rakyat kecil.
“Jika tuntutan kami tidak didengar dan ditindaklanjuti, kami tegaskan akan melanjutkan aksi dengan skala lebih besar apabila aspirasi tidak direspons pemerintah,” ungkapnya.
Aksi ini sekaligus menjadi penegasan bahwa peringatan May Day bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum perlawanan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan yang dirasakan kalangan pekerja. (*)












