MEULABOH | BARATNEWS.CO – Kisah pilu datang dari daerah berjulukan bumi Teuku Umar. Di sudut wilayah sebelah barat, Kabupaten Aceh Barat, seorang janda lima anak menahan derita dengan penuh keterbatasan hidup.
Dia adalah Cut Indek (48) warga Desa Perman, Kecamatan Woyla Barat, kabupaten setempat. Wanita janda ini terbilang hidup di bawah garis kemiskinan, tinggal di gubuk reyot berlantai tanah, beratap daun rumbia dan berdinding kayu.
Nasib malang menghempap Cut Indek kian bertambah kala suami merantau ke negeri jiran, Malaysia, memilih meninggalkan Cut Indek dan menikahi wanita lain. Kepergian mantan suami, memaksakan Cut Indek menghidupi kelima anak-anaknya.
Dari kelima anak, satu di antaranya perempuan, empat laki-laki. Anak sulungnya yang perempuan sudah berumah tangga. Sementara empat putranya tinggal bersama Cut Indek di gubuk berukuran 4×7 meter.
Dari keempat putranya hanya anak bungsunya yang masih duduk di bangku kelas lima Sekolah Dasar (SD). Sedangkan ketiga abang-abangnya telah berhenti sekolah, bekerja serabutan membantu ibunya.
Lebih tragis lagi, salah satu anak Cut Indek yang sudah menginjak usia 15 tahun belum disunat, akibat tidak punya biaya. Jangankan membiayai sunatan anak, dinding kayu yang lapuk di rumahnya saja tak dapat diperbaiki pelan-pelan, lantaran keterbatasan ekonomi.
Gubuk kecil dihuni oleh keluarganya selama puluhan tahun itu selama ini tanpa tersedia kamar tidur. Bahkan, aliran listrik di gubuk reyot miliknya diambil melalui rumah tetangga yang peduli terhadap Cut Indek.
Kondisi gubuk kecil ketika kepala melirik ke atas dedaunan rumbia, lirik ke bawah lantai tanah dan lirik kiri-kanan dinding kayu yang sebagiannya sudah lapuk dimakan usia tampaknya tak layak lagi dihuni keluarga Cut Indek.
Tentu tak ada peralatan rumah yang mewah di dalam gubuk itu, mungkin saja kasur kapas satu-satunya barang termewah bagi dirinya. Itu pun Cut Indek dan empat anaknya bentangkan kasur di lantai tanah beralas apa adanya.

Tanggapan Inisiator GARDA Indonesia
Inisiator Gerakan Relawan Rumah Dhuafa (GARDA) Indonesia, Aduwina Pakeh, mengaku prihatin melihat kondisi keluarga Cut Indek yang serba kekurangan. Apalagi, keluarga satu ini bertempat tinggal di rumah tak layak huni.
“Kami sangat prihatin dengan kondisi keluarga Cut Indek. Kami berharap pemerintah daerah untuk turun tangan agar mereka tidak terus hidup dalam kesulitan,” kata Aduwina Pakeh kepada wartawan, usai kunjungan relawan sosial GARDA Indonesia ke rumah Cut Indek, Kamis (12/12/2024).
Saat kunjungannya itu, Cut Indek dengan suara terbata-bata bercerita kepada relawan, bahwa dirinya tidak tahu meniti kehidupan dengan cara lain. Dia dengan pasrah menahan pahit kehidupan diderita olehnya selama ini.
“Saya tidak tahu harus kemana lagi. Sudah lama sekali kami hidup seperti ini. Anak-anak saya terpaksa tidak sekolah karena tidak ada biaya. Bahkan untuk makan sehari-hari pun seringkali susah,” kata Aduwina, mengutip cerita Cut Indek.
Aduwina mengatakan, Cut Indek tidak memiliki sumber penghasilan tetap, kecuali sebidang tanah sawah peninggalan orang tuanya. Dia hanya bisa bekerja serabutan dengan penghasilan minim.
Sebab itu, relawan sosial GARDA Indonesia, mendesak agar Pemerintah Kabupaten Aceh Barat untuk segera memberikan bantuan berupa rumah layak huni, bantuan sosial, serta akses pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak Cut Indek.
“Warga setempat juga turut menyuarakan keprihatinannya. Mereka berharap ada perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat sekitar untuk membantu keluarga tersebut keluar dari kesulitan hidup yang mereka alami,” ungkap Aduwina. (*)













