JAKARTA | BARATNEWS.CO – Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat persatuan dan mengesampingkan perbedaan demi mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan sejahtera. Menurutnya, kemampuan bekerja sama menjadi kunci utama bagi sebuah bangsa untuk mencapai potensi terbaiknya.
Pesan itu disampaikan Presiden saat membuka Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Prabowo menegaskan Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas keberagaman suku, agama, budaya, profesi, serta latar belakang yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan dengan menjadikan kecintaan kepada Tanah Air sebagai fondasi utama.
“Kita punya latar belakang dan pengalaman yang berbeda, tetapi kalau sama-sama mencintai tanah air, saya yakin kita bisa menemukan titik-titik kebersamaan,” ujar Prabowo.
Ia mengatakan sejarah telah membuktikan bahwa bangsa yang para pemimpinnya mampu bersinergi dan bekerja sama akan lebih mudah bangkit dan berkembang. Sebaliknya, bangsa yang terus terjebak dalam konflik internal akan sulit mencapai kemajuan.
“Dari apa yang saya pelajari dalam sejarah, bangsa yang elitnya bisa bekerja sama akan menjadi bangsa yang bangkit. Sebaliknya, bangsa yang elitnya terus berselisih tidak akan mampu mencapai potensinya,” katanya.
Meski demikian, Presiden menegaskan persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan pendapat. Sebagai negara demokrasi, Indonesia tetap menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan keberagaman pandangan.
Namun, ia mengingatkan agar setiap perbedaan tidak berujung pada konflik berkepanjangan yang justru menghambat pembangunan dan kesejahteraan rakyat.
“Kita mungkin tidak selalu puas, tetapi apakah alternatifnya harus terus gaduh? Setiap pemilihan ribut, yang kalah terus mempermasalahkan hasil. Kalau begitu, kapan kita fokus membangun kesejahteraan rakyat?” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Prabowo mengajak seluruh pemimpin, akademisi, ilmuwan, dan masyarakat untuk mengabdikan ilmu pengetahuan, kemampuan, serta pemikiran terbaik bagi kepentingan bangsa, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang paling membutuhkan.
“Bukankah seluruh kepintaran yang kita miliki harus kita abdikan untuk rakyat, terutama mereka yang paling miskin dan paling lemah,” pungkas Presiden. (*)













