“Penetapan ini dilakukan melalui musyawarah dan perhitungan yang diyakini telah sempurna oleh para ulama,” ujar TRK.
NAGAN RAYA | BARATNEWS.CO — Ribuan jamaah Tarekat Syattariyah pengikut Abu Habib Muda Seunagan di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah lebih awal pada Kamis (19/3/2026).
Pelaksanaan shalat berlangsung di Masjid Jamik Peuleukung, Kecamatan Seunagan Timur. Di lokasi, suasana di masjid tersebut tampak khidmat meski jemaah berada di bawah terik matahari.
Bupati Nagan Raya Teuku Raja Keumangan yang akrab disapa TRK turut bertindak sebagai khatib. Sementara imam salat dipimpin oleh Abu Said Kamaruddin dan doa dipimpin Said Hamazali.
Dalam khutbahnya, TRK menyampaikan bahwa pelaksanaan Idul Fitri tersebut didasarkan pada hasil musyawarah para pimpinan dayah pengikut Habib Muda Seunagan, setelah memastikan jamaah telah menyempurnakan puasa Ramadan selama 30 hari.
“Penetapan ini dilakukan melalui musyawarah dan perhitungan yang diyakini telah sempurna oleh para ulama,” ujar TRK.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga etika selama perayaan Idul Fitri, terutama dengan menghormati umat Islam lain yang masih menjalankan ibadah puasa.
“Masih ada saudara kita yang berpuasa beberapa hari ke depan. Karena itu, kami mengimbau agar tidak makan dan minum secara terbuka di tempat umum,” katanya.
Selain di Masjid Peuleukung, pelaksanaan Shalat Id juga digelar secara serentak oleh jamaah Syattariyah di sejumlah titik lainnya di wilayah Nagan Raya.
TRK berharap perbedaan waktu perayaan Idul Fitri tidak menimbulkan perpecahan, melainkan menjadi bagian dari keberagaman yang tetap dijaga dengan saling menghormati.
“Perbedaan ini harus disikapi dengan bijak agar kerukunan antar umat tetap terjaga,” tegasnya.
Sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber, Tarekat Syattariyah merupakan aliran tasawuf yang berkembang di Nusantara sejak abad ke-17 melalui ulama dari Timur Tengah dan India, kemudian tumbuh kuat di Aceh.
Di daerah ini, Syattariyah dikenal mempertahankan metode hisab rukyat sendiri dalam menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri, yang diwariskan secara turun-temurun di lingkungan dayah.
Daerah Nagan Raya sendiri, khususnya jamaah Syattariyah Habib Muda Seunagan, tradisi tersebut masih terus dijalankan sebagai bagian dari identitas keagamaan, sekaligus mencerminkan keberagaman dan toleransi dalam masyarakat Aceh. (*)







Discussion about this post