Dalam pemaparannya, Cornelius mengulas hasil penelitiannya terkait perubahan sosial-politik Aceh selama dua dekade terakhir.
BANDA ACEH | BARATNEWS.CO — Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMAPOL) menggelar kuliah umum bertema “Policies for Peace: Tracing Conflict Issues”. Kegiatan ini menghadirkan peneliti asal Jerman, Cornelius Haritz, yang menyoroti dinamika konflik dan proses perdamaian di Aceh.
Acara berlangsung di ruang teater FISIP UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Senin (3/11/2025). Kuliah umum tersebut diikuti mahasiswa Ilmu Politik dan lintas program studi yang tertarik pada kajian pascakonflik dan transformasi sosial Aceh.
Dalam pemaparannya, Cornelius mengulas hasil penelitiannya terkait perubahan sosial-politik Aceh selama dua dekade terakhir.Ia
Ia menjelaskan bahwa puncak eskalasi konflik terjadi pada 1999–2005, namun setelah penandatanganan Perjanjian Helsinki, Aceh berhasil mempertahankan ruang damai hingga hari ini tanpa kembali terjadi kekerasan berskala besar.
Menurutnya, Aceh telah menjadi contoh penting dalam penyelesaian konflik modern di Asia Tenggara. “Saya melihat banyak perubahan signifikan. Aceh berhasil menjaga stabilitas tanpa menghapus memori sejarahnya,” ujar Cornelius.
Ia juga membagikan pengalaman sehari-hari selama melakukan riset di Banda Aceh. Salah satu hal yang menurutnya menarik adalah budaya saling percaya di masyarakat.
“Saya pernah lupa mengambil kartu ATM di mesin. Keesokan harinya, kartu itu masih berada di tempatnya. Ini menunjukkan keamanan dan etika sosial yang kuat,” tuturnya disambut apresiasi peserta.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa menyoroti isu pemanfaatan Dana Otonomi Khusus (Otsus), pembangunan ekonomi, dan tantangan regenerasi kepemimpinan lokal.
Ketua Program Studi Ilmu Politik, Ramzi Murziqin, M.A., menyampaikan bahwa kuliah umum ini menjadi media penting untuk memperluas cakrawala berpikir mahasiswa terhadap isu-isu global.
“Kajian perdamaian merupakan bagian dari identitas politik Aceh. Diskusi dengan perspektif peneliti luar memberi sudut pandang yang menyegarkan,” ungkap Ramzi.
Sementara itu, Ketua HIMAPOL, Dicky Aulia, menyebut kegiatan ini menjadi pengalaman akademik yang berkesan bagi mahasiswa.
“Ini bukan hanya ruang belajar, tapi juga pertukaran perspektif lintas negara. Kita melihat Aceh dari sudut pandang yang berbeda,” ujarnya. (*)






Discussion about this post