BANDA ACEH | BARATNEWS.CO — Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh menyiapkan enam lokasi pengamatan rukyat hilal untuk menentukan awal 1 Syawal 1447 Hijriah yang bertepatan dengan Idul Fitri 2026.
Pengamatan hilal tersebut akan dilaksanakan serentak pada Kamis (19/3/2026) atau bertepatan dengan 29 Ramadan, bersamaan dengan sidang isbat yang digelar pemerintah pusat di Jakarta.
Kepala Kanwil Kemenag Aceh Azhari mengatakan proses pemantauan akan dimulai setelah salat Asar dengan menggunakan teleskop astronomi dan sejumlah instrumen pendukung lainnya.
“Pemantauan dilakukan dengan teleskop astronomi dan akan diawali dengan pemaparan posisi hilal oleh tim hisab rukyat dan ahli astronomi Aceh,” kata Azhari dalam keterangannya, Selasa (17/3/2026).
Enam titik rukyat yang telah ditetapkan tersebar di berbagai wilayah Aceh, yakni Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang di Lhoknga (Aceh Besar), Tugu Nol Kilometer Sabang, kawasan Perta Arun Gas Lhokseumawe, Pantai Lhokgeulumpang Aceh Jaya, POB Suak Geudubang Aceh Barat, serta Pantai Nancala di Simeulue.
Kegiatan pengamatan ini juga terbuka bagi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung proses rukyat hilal.
Azhari menambahkan, hasil pengamatan dari seluruh daerah akan menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar.
“Masyarakat diharapkan menunggu pengumuman resmi pemerintah yang biasanya disampaikan sekitar pukul 19.30 WIB,” ujar Azhari.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga persatuan apabila terjadi perbedaan dalam penetapan awal Syawal.
“Perbedaan merupakan hal yang wajar. Yang terpenting adalah saling menghargai dan menjaga ukhuwah,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Falakiyah Kemenag Aceh Alfirdaus Putra menjelaskan secara astronomi posisi hilal pada 29 Ramadan diperkirakan masih berada di bawah kriteria imkan rukyat yang digunakan negara-negara Asia Tenggara.
Ia menyebutkan, berdasarkan kriteria MABIMS, hilal dapat diamati jika memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
“Di Aceh, ketinggian hilal diperkirakan sekitar 3,1 derajat, namun elongasinya masih di bawah kriteria, yakni sekitar 6,1 derajat. Kondisi ini membuat peluang terlihatnya hilal relatif kecil,” jelasnya.
Meski demikian, rukyat tetap dilaksanakan sebagai bagian dari proses verifikasi ilmiah. Jika hilal berhasil diamati, temuan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi terhadap kriteria yang selama ini digunakan.
Pengamatan hilal diperkirakan berlangsung saat matahari terbenam sekitar pukul 18.50 WIB dengan durasi pengamatan kurang lebih 15 menit.
Apabila hilal berhasil terlihat, maka 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Jumat (20/3/2026). Namun jika tidak terlihat, maka Ramadan digenapkan menjadi 30 hari sehingga Idul Fitri diperkirakan jatuh pada Sabtu (21/3/2026). (*)






Discussion about this post